Operasi Gigi Geraham ke-3 Tertanam (Wisdom Tooth Removal)

Operasi Gigi Geraham ke-3 Tertanam (Wisdom Tooth Removal):

Prof. Coen Pramono D, Drg., SU., Sp.BM(K)

 

Semua gigi permanen yang tidak dapat tumbuh disebut dengan gigi yang mengalami impaksi. Semua jenis gigi dapat memiliki kemungkinan untuk tidak dapat tumbuh. Tersering adalah gigi geraham ke-3 rahang bawah dan rahang atas, gigi kaninus (taring) dan gigi premolar.

Istilah Wisdom teeth dipakai untuk gigi geraham ke-3 rahang bawah dan merupakan gigi terakhir dan tumbuh paling akhir. Secara medis gigi wiadom teeth disebut dengan gigi molar ketiga. Gigi ini sering kali memerlukan tindakan pengambilan dikarenakan arah tumbuhnya yang salah. Sebagian besar cara pengambilan hanya dapat dilakukan melalui tindakan operasi. Hal ini dikarenakan sebagian atau seluruh bagian gigi masih tertanam di tulang rahang, sehingga pengambilan gigi tersebut dengan cara melakukan pencabutan biasa tidak mungkin dilakukan.

Operasi gigi molar ke-3 sebaiknya dilakukan oleh seorang Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial, meskipun pada kasus-kasus yang mudah dapat dilakukan oleh seorang dokter gigi umum

Teori terjadinya gigi geraham ke-3 tidak dapat tumbuh (mengalami impaksi):

Pada umumnya gigi geraham ketiga  akan tumbuh menembus gusi pada usia puluhan atau di awal usia 18-20-an dan karena ke- 28 gigi-gigi permanen lainnya sudah tumbuh keseluruhannya, sehingga seringkali tidak diperoleh cukup tempat untuk tumbuh karena tertahan oleh gigi molar ke-2 di depannya. Sehingga gigi akan tumbuh sebagian, atau salah arah. Keadaan semacam ini dikenal dengan sebutan gigi tertanam atau gigi impaksi.

Ada teori lain yang mengatakan, bahwa apabila benih gigi molar ke-3 belum terbentuk di rahang bawah di usia antara 4  - 5 tahun maka terdapat kemungkinan bahwa gigi geraham ke-3 tersebut tidak akan mempu untuk dapat erupsi karena bagain tulang di atas gigi tersebut telah cukup keras untuk dapat ditembus dalam suatu proses  erupsi gigi geraham ke-3 tersebut.

Secara garis besar terdapat beraneka tipe gigi impaksi:

  • mesial impaksi - apabila gigi molar ke-3 tumbuh miring membentuk sudut terhadap gigi di depannya.
  • vertikal impaksi - gigi molar ke-3 tumbuh dalam arah vertikal tetapi tertahan oleh gigi di depannya atau tidak terdapat cukup tempat untuk tumbuh karena ruang di belakang gigi  molar ke-2 terlalu sempit.
  • horizontal impaksi - gigi molar ke-3 tumbuh dalam arah horizontal terhadap gigi molar ke-2.
  • distal impaktion - gigi molar ke-3 tumbuh terbalik ke arah belakang dan terjepit dalam posisi terebut.
  • Dari keempat posisi tersebut di atas letak gigi molar ke-3 impaksi dapat dapat dibagi lagi menurut kedalamannya: terletak di atas leher gigi atau terletak di bawah leher gigi geraham di depannya.

Gigi impaksi di rahang atas juga seringkali diketemukan dan seringkali juga dianggap sebagai penyebab timbulnya gangguan kesehatan seperti halnya gigi impaksi di rahang bawah.

Mengapa gigi tertanam atau impaksi harus diambil?

Tidak semua orang yang memiliki gigi impaksi memiliki gangguan kesehatan yang berkaitan dengan gigi impaksinya tersebut, tetapi gigi impaksi sering menimbulkan masalah bagi kebanyakan individu

 

Bebarapa hal yang sering dikeluhkan pada pasien dan diketemukan dengan gigi impaksi :

  1.  Cephalgia (sakit kepala), migraine, pusing.
  2. Kaku kuduk,  nyeri pundak dan punggung.
  3. Nyeri sendi-sendi;Beberapa pasien melaporkan jari-jari tangan merasa kaku dan sakit pada saat digerakkan di pagi hari
  4. Rasa lemas pada tungkai (kaki), sampai dapat terjatuh karena merasa lemas.
  5. Rasa sakit pada sendi lutut.
  6. Dispepsia (gangguan lambung): sering kali menyebabkan timbulnya gangguan lambung ringan sampai berat sampai penderita mengalami muntah-muntah.
  7. Meskipun sangat jarang, dilaporkan adanya gangguan penglihatan dan gangguan irama jantung.
  8. Sebagai penyebab kerusakan gigi di depannya karena seringnya terjadi food impaction=makanan yang terselip diantara gigi geraham ke-3 dan ke-2.
  9. Infeksi  dengan gradasi timbulnya nyeri ringan sampai hebat dan terjadi infeksi bernanah.
  10. Seringkali gigi geraham ke-3 diketemukan dengan adanya kista jenis Dentigerous Cyst (kista dentigerous).
  11. Diketemukan gigi geraham ke-3 dalam masa tumor rahang jenis Ameloblastoma dimana untuk perawatan tumor jenis ini memerlukan tindakan seringkali memerlukan tindakan pembedahan radikal yaitu pemotongan rahang.
  12. Infeksi berulang-ulang pada mukosa atau gusi disekitar gigi geraham ke-3 selalu dikhawatirkan dengan timbulnya perubahan menjadi keganasan.
  13. Infeksi kronis : pada pemeriksaan darah sering kali diketemukan nilai Laju Endap Darah (LED) . Pasien dapat mengalami demam berualang-ulang tanapa diketahui sebabnya.

 

Pengambilan gigi molar ke-3 impaksi:

Dalam bahasa Inggris sering disebut dengan wisdom toooth removal  atau dalam bahasa medis disebut dengan odontektomi atau dalam bahasa umum dikenal dengan operasi gigi tertanam. Hampir semua gigi impaksi memerlukan pengambilan melalui tindakan operasi:

Seringkali gigi molar ke-3 impaksi menyebabkan gangguan kesehatan. Keluhan neurologis, seperti; sakit kepala, gangguan lambung (dyspepsia), sakit pada  punggung dan leher, sakit pada persendian di tangan dan lutut, gangguan irama jantung, gangguan penglihatan, dll; merupakan jenis-jenis gangguan yang sering diketemukan pada pasien-pasien dengan gigi impaksi.  Dianjurkan untuk melakukan pengambilan gigi-gigi impaksi tersebut di usia muda (dibawah 17 tahun) meskipun belum menimbulkan keluhan, karena di usia muda tindakan operasi lebih mudah, lebih mudah sembuh dan lebih tidak sakit dibandingkan pada pasien yang harus dilakukan operasi pengambilan gigi geraham ke-3 di usia tua.

Gangguan lain yang dapat timbul, adalah terdorongnyan gigi-gigi di depat gigi molar ke-3 sampai dengan gigi depan sehingga gigi-gigi bagian depan menjadi berdesakan.

Rencana untuk operasi gigi tertanam sebaiknya didiskusikan dengan dokter gigi yang akan melakukan tindakan operasi, karena operasi gigi molar ke-3 impaksi dapat menyebabkan terjadinya pati rasa (numbness) pada daerah bibir dan dapat mencapai bagian dagu. Komplikasi ini sangat jarang terjadi, tetapi pada kasus tertentu, dimana letak akar gigi sangat dekat dengan nervus (saraf) alveolaris inferior resiko terjadinya numbness merupakan resiko yang harus diketahui pasien sebelum tindakan operasi disepakati untuk dilaksanakan.

 

Kemungkinan komplikasi tindakan operasi pengambilan gigi gerahan ke-3 tertanam:

  1. Infeksi : dapat terjadi infeksi pasca bedah oleh karena operasi dilakukan pada saat di daerah gigi molar ke-3 tersebut masih dalam keadaan infeksi, sehingga tindakan operasi tersebut semakin menyebarkan infeksi.
  2. Pembengkakan: pembengkakan pasca operasi pada umumnya merupakan keadaan yang normal karena hal ini merupakan reaksi tubuh terhadap adanya luka di tulang dan jaringan lunak. Pada keadaan infeksi kejadian bengkak dapat menjadi tidak normal karena pembengkakan ini dapat merupakan pembengkakan oleh karena abses.
  3. Operasi dilakukan dengan cara asepsis (alat dan perlakukan tidak steril sering sebagai penyebab utama terjadinya infeksi.
  4. Gigi geraham ke-3 dapat tertanam  di rahang atas dan bawah dengan derajat kedalaman yang sangat bervariasi. Pada rahang bawah kedalaman gigi yang tertanam akan berkaitan dengan tingkat kesulitan dan resiko operasinya. Semakin dalam gigi tertanam, maka akan semakin dekat letak gigi tersebut terhadap jaringan saraf yang ada di dalam rahang (saraf tersebut di sebut dengan nervus Alveolaris Inferior dengan fungsi sensorik yang lebigh dominan). Sehingga pada operasi gigi geraham ke-3 dimana gigi tersebut terletak sangat dekat dengan saraf tersebut (atau bahkan bagian dari gigi tersebut terletak melekat dengan saraf tersebut). Tindakan operasi dapat beresikomelukai saraf tersebut. Sebagai akibat: terganggunya fungsi sensorik yaitu di daerah bibir dan dapat sampai ke daerah dagu. Pada keadaan demikian sering tidak dapat dihindari oleh karena memang letak gigi yang melekat langsung pad nervus alveolaris inferior. Sehingga Dokter Gigi yang akan melakukan operasi gigi geraham ke-3 tertanam harus sudah menjelaskan kepada pasien sebelum operasi dilaksanakan dan pasien mengetahui dan menyetujui kemungkinan kejadian gangguan sensorik ini (pati rasa bibir dapat sampai dagu) karena memang prosedur operasi harus dilakukan oleh karena pertimbangan-pertimbangan medis.   
  5. Perdarahan pasca operasi
  6. Pada pasien dalam perawatan seorang dokter spesialis penyakit dalam atau spesialis jantung hendaknya mewaspadai adanya: diabetes millitus karena resiko infeksi, pasian dengan gangguan jantung, pasien dengan konsumsi antikoagulan (plafix, dsb-nya), pasien dengan tekanan darah tinggi beresiko perdarahan.
  7. Pasien dengan hipertensi memiliki resiko terjadi perdarahan pada saat operasi atau pasca operasi. Demikian pula pada pasien hipertensi yang telah stabil, penggunaan obat anestesi lokal perluh dipilih jenis obat yang tidak menaikkan tekanan darahnya.
  8. Mewaspadai adanya luka berbentuk ulkus (borok) di daerah gigi gerahan ke-3 tersebut bukan sekedar luka infeksi, tetapi dapat merupakan proses keganasan. Tindakan operasi akan dapat menyebabkan semakin memburuknya proses keganasan tersebut.
  9. Infeksi sampai dapat terbentuk abses.

 

Persiapan operasi:

  1. Sebaiknya operasi dilakukan pada pasien dalam keadaan sehat.
  2.  Diperlukan pemeriksaan seksama dengan pertolongan data pendukung, seperti foto x-ray panoramik agar posisi gigi impaksi dapat terlihat jelas dalam semua aspek
  3. sebaiknya pasien telah dipersiapkan untuk minum antibiotika dan obat antiradang sebelum operasi dilaksanakan.
  4. Pada umumnya tindakan operasi pada gigi molar ke-3 impaksi dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi lokal di ruang praktek dokter gigi.
  5.  Pada kasus-kasus tertentu dimana diperlukan tindakan operasi dengan menggunakan bius umum, maka diperlukan pemeriksaan lebih mendetil sehinnga diperlukan pemeriksaan darah untuk melihat keadaan kesehatan secara umum.
  6. Pasien sebaiknya menceritakan pada dokter gigi yang akan merawat akan keadaan kesehatannya. Hal ini diperlukan  untuk menghindari terjadinya komplikasi, sebagai contoh: Diabetes Millitus akan beresiko terjadi komplikasi infeksi, darah tinggi akan beresiko terjadi perdarahan, pada pasien yang secararutin minum obat antikoagulan, seperti cardio aspirin, plafix  mempunyai resiko terjadi perdarahan oleh karena gagalnya pembekuan darah.
  7. Setelah tindakan operasi luka akan dijahit dan pada umumnya jahitan akan diambil setelah 7-10 hari pasca operasi

 

Teknik operasi gigi geraham ke-3 tertanam:

Saya mengembangkan metode splt technique untuk melakukan pembedahan gigi gerahan ke-3 tertanam yaitu melakukan pemotongan gigi tertanam tersebut benjadi bebrapa bagian, sehingga luka bedah relatif lebih kecil dan prosedur bedah lebih cepat  dan trauma lebih minimal - (Buku: Odontektomi menggunakan metode Split Technique terbitan Airlangga University Press, penulis: Coen Pramono D)

 

Hal-hal yang perlu diketahui dan diperhatikan untuk menjaga luka pasca operasi gigi impaksi molar ke-3:

  1. Setelah operasi pasien akan diminta oleh dokter gigi untuk menggigit kassa/tampon agar darah dapat berhenti dan apabila setelah satu jam dan tampon dibuang darah masih mengalir maka dianjurkan untuk menggigit tampon kembali lebih kurang 1 jam agar darah berhenti. Seringkali dijumpai darah masih sedikit merembas, pasien tidak perlu khawatir karena darah pada umumnya akan berhenti. Pada keadaan darah masih banyak mengalir setelah 24 jam pasca operasi, maka sebaiknya melakukan konsultasi kepada dokter gigi yang melakukan operasi karena terdapat 2 kemungkinan: a) terjadi keterlambatan pembekuan darah sehingga diperlukan bentuan obat untuk membantu proses pembekuan, b) terdapat luka dan pada luka tersebut terdapat pembuluh darah yang terbuka sehingga diperlukan penjahitan tambahan pada luka tersebut.
  2. Apabila perdarahan berlanjut hubungi dokter yang merawat.
  3.  Kompres es di pipi di sisi yang dilakukan operasi akan sangat membantu untuk mengurangi pembengkakan dan mempercepat proses pembekuan darah. Kompres es dilakukan sesering mungkin untuk kurun 2 hari pasca operasi.
  4. Tidak diperkenankan untuk melakukan kumur-kumur dan menghisap-hisap luka, karena tindakan tersebut akan merusak jendalan/bekuan  darah yang telah terbentuk sehingga dapat menyebabkan perdarahan kembali dan apabila bekuan darah tersebut terbuka akan terdapat resiko terjadinya infeksi.
  5. Obat antibiotika, antiradang, penghilang nyeri diminum secara teratur.
  6.  Menjaga makan (makan bersih) agar luka pasca operasi tidak menjadi kotor. Sangat dianjutkan untuk merendam luka dengan obat kumur antiseptik setiap setelah makan.
  7. Sikat gigi secara hat-hati diperkenankan sehari pasca operasi dan tidak diperkenankan melakukan kumur-kumur, tetapi cukup mengalirkan air ke dalam mulut sampai bersih. Sangat dianjurkan untuk memberihkan mulut menggunakan air matang atau air kemas untuk mencegah terjadinya infeksi.
  8. Kontrol pasca operasi umumnya dilakukan : 1 (satu) hari pasca operasi, hari kelima (setalah obat habis: diperlukan untuk melihat apakah luka pasca operasi baik dan untuk melihat apakah masih diperlukan antibiotika tambahan), dan selanjutnya pada hari ke 7 atau ke 10 untuk pengambilan jahitan.